Program Literasi

1. RADIASI : RADIASI singkatan dari Rabu Digital Literasi adalah sebuah program pembiasaan bagi murid untuk meningkatan kemampuan literasi dan pemanfaatan media IT yang dilaksanakan setiap hari rabu. praktik atau kegiatan ini mengambil waktu 1 JP (35 menit) yang melibatkan fase A, B dan C dengan mengambil tempat di area lapangan SDN 1 Tiga. Praktik ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan  literasi siswa, meningkatkan keterampilan penggunaan teknologi digital dalam mencari sumber literasi dan mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial murid. 

Radiasi sendiri memberikan pengalaman bagi murid dalam melakukan literasi yang menyenangkan dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana pendukungnya. Melalui kegiatan ini murid juga dibekali dengan kemampuan untuk mencari dan memanfaatkan informasi dari berbagai sumber. Murid yang memiliki literasi yang baik akan lebih mampu mengatasi tantangan akademik dan pribadi, serta mengembangkan minat dan bakat mereka. Selain itu dalam kegiatan ini juga diperlukan kolaborasi antar kelompok murid agar dapat memecahkan permasalahan yang diberikan

Secara keseluruhan, Rabu Digital Literasi adalah sebuah kegiatan peningkatan kemampuan literasi dengan memanfaatkan media IT yang nantinya dapat dijadikan pengalaman yang bermakna dalam mendukung pembelajaran di kelas.

2. NUMENYAMA BALI: NUMENYAMA BALI singkatan dari Nulis Maca Nyarita lan Matingkah Bali. Program pembiasaan NUMENYAMA BALI SD Negeri 1 Tiga dilaksanakan setiap hari Kamis dengan alokasi waktu 1JP/35 menit. Menyasar seluruh siswa fase A, B dan C. Strategi penguatan literasi yang dipilih adalah Strategi Implementasi pada Lingkungan Akademis. Domain yang dikembangkan adalah 1) Kosakata bahasa bali; 2) Aksara Bali; 3) Peribahasa; 4) Cerita. Literasi bahasa Bali di sekolah dasar mengacu pada kemampuan siswa dalam memahami, menggunakan, dan menghargai bahasa Bali secara efektif. Ini mencakup pemahaman akan kosakata, tata bahasa, struktur kalimat, serta kemampuan dalam membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dalam bahasa Bali. Literasi bahasa Bali di sekolah dasar juga melibatkan pemahaman akan nilai-nilai budaya, tradisi, dan identitas Bali yang terkandung dalam bahasa tersebut. Dalam konteks sekolah dasar, literasi bahasa Bali bertujuan untuk memberikan dasar yang kuat bagi siswa dalam memahami dan menghargai warisan budaya mereka. Melalui pembelajaran bahasa Bali, siswa dapat mengembangkan identitas kultural mereka dan merasa lebih terhubung dengan komunitas dan tradisi Bali. Selain itu, literasi bahasa Bali juga berperan dalam meningkatkan komunikasi dan pemahaman antaranggota masyarakat Bali, baik dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Pengembangan literasi bahasa Bali di sekolah dasar melibatkan berbagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif siswa dengan bahasa tersebut. Ini termasuk penggunaan metode pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, penggunaan sumber belajar yang menarik, serta pemberian kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang mempromosikan penggunaan bahasa Bali. Dengan demikian, literasi bahasa Bali di sekolah dasar bukan hanya tentang penguasaan teknis bahasa, tetapi juga tentang memperkuat identitas budaya dan mempromosikan keberagaman bahasa di kalangan generasi muda Bali.

3. JUMPARASI: JUMPARASI singkatan dari Jumat Pintar Numerasi. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat dengan alokasi waktu 1JP/35 menit. Menyasar seluruh siswa dari fase A, B dan C. Fokus materi yaitu tentang Literasi Numerasi. Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk (a) menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan (b) menganalisis informasi yang ditampilkan di dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dan lain sebagainya) lalu menggunakan interpretasi hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil kesimpulan dan keputusan.

Secara sederhana, numerasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari. Literasi numerasi juga mencakup kemampuan untuk menerjemahkan informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling kita. Singkatnya, literasi numerasi adalah kemampuan atau kecakapan dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan menggunakan matematika dengan percaya diri di seluruh aspek kehidupan. Literasi numerasi meliputi pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan perilaku positif. 

Numerasi tidaklah sama dengan kompetensi matematika. Keduanya berlandaskan pada pengetahuan dan keterampilan yang sama, tetapi perbedaannya terletak pada pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan tersebut. Pengetahuan matematika saja tidak membuat seseorang memiliki kemampuan numerasi. Numerasi mencakup keterampilan mengaplikasikan konsep dan kaidah matematika dalam situasi riil sehari-hari. Saat permasalahannya sering kali tidak terstruktur, memiliki banyak cara penyelesaian, atau bahkan tidak ada penyelesaian yang tuntas, serta berhubungan dengan faktor nonmatematis.

4. GELAS MINUM: GELAS MINUM merupakan singkatan dari Gerakan Literasi dan Minat Numerasi. Program GELAS MINUM (Gerakan Literasi dan Minat Numerasi) merupakan sebuah inisiatif edukatif yang dirancang secara komprehensif untuk membangkitkan motivasi siswa dalam menguasai kecakapan literasi dan numerasi melalui pendekatan yang menyenangkan. Secara filosofis, nama program ini mengibaratkan ilmu pengetahuan sebagai air yang harus diteguk secara konsisten untuk memenuhi dahaga intelektual siswa. Implementasinya dimulai dengan mentransformasi sekolah menjadi lingkungan kaya teks dan angka, di mana setiap sudut ruang—mulai dari dinding kelas hingga area kantin—disulap menjadi media belajar visual yang informatif dan kontekstual bagi kehidupan sehari-hari.

Selain aspek lingkungan, program ini berfokus pada optimalisasi pojok dan sudut baca agar tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi berubah menjadi zona nyaman yang interaktif. Dengan penataan yang estetik dan sistem rotasi buku yang terjadwal, siswa didorong untuk memiliki aksesibilitas yang lebih luas terhadap berbagai jenis bacaan. Di sisi lain, aspek numerasi diperkuat melalui kegiatan berbasis proyek yang menantang siswa memecahkan masalah logika di lapangan, sehingga matematika tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang abstrak, melainkan alat bantu praktis yang nyata.

Untuk menjaga keberlanjutan motivasi, GELAS MINUM juga mengintegrasikan berbagai aktivitas rutin seperti sesi membaca lima belas menit sebelum pelajaran dimulai serta panggung literasi sebagai wadah apresiasi karya siswa. Melalui sinergi antara fasilitas yang memadai dan kegiatan yang partisipatif, program ini bertujuan menciptakan budaya sekolah yang kritis, logis, dan mandiri. Pada akhirnya, program ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya mahir membaca dan berhitung, tetapi juga memiliki kemampuan analisis yang tajam dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait